Saat bertemu dengan Pak Paulus Winarto (pakar tentang kepemimpinan, penulis buku laris) di Bandung, beliau merekomendasikan sebuah film yang luar biasa yaitu The Pursuit of Happyness . Saya ingat pernah lihat buku itu di toko buku, tetapi saya tidak tahu bahwa buku itu ternyata ada filmnya dan merupakan biografi / true story dari Chris Gardner yang diperankan oleh Will Smith. Saya berjanji akan meminjam dan menonton film itu. Dalam 2 hari, saya menyempatkan untuk meminjam film tersebut dan menontonnya. Saya hanya bisa bilang film ini LUAR BIASA! Saya jarang melihat sebuah film yang bisa membuat saya tersentuh dan menangis. Istri saya juga menangis saat nonton bersama film ini. Kisahnya, pemerannya dan settingnya semua pas, makanya tidak heran film ini mendapat pujian dan penghargaan dari banyak orang. Segera nonton deh film ini, dijamin pasti Anda juga terharu dan terinspirasi dengan kisah nyata ini.
Cerita Singkat dari Film
Ini bukan film drama yang penuh cerita menyedihan melainkan sebuah film perjuangan seorang ayah yang mencintai dan harus membesarkan anaknya yang masih kecil dalam kondisi tidak punya uang, tidak punya rumah dan tidak punya pekerjaan. Chris Gardner adalah seorang ayah yang rajin, pintar, semangat kerja tinggi dan punya impian yang besar untuk keluarga, seperti kebanyakan dari Anda. Dengan latar belakang seorang sales dan penjual, dia memberanikan diri untuk mengambil sebuah tawaran untuk menjadi distributor sebuah alat kedokteran yang baru dan canggih. Seperti kebanyakan orang yang mempunyai impian yang besar, Chris berani mengambil resiko dan menggunakan hampir seluruh tabungannya untuk membeli stok persediaan alat kedokteran tersebut dan memiliki wilayah eksklusif pemasaran di kotanya.
Setelah dicoba dipasarkan, dia baru sadar bahwa alat kedokteran itu bagi kebanyakan dokter adalah alat yang cukup mahal dan kurang dibutuhkan. Presentasi demi presentasi ke setiap dokter yang ada di wilayahnya dilakukan. Kehadiran seorang anak dan biaya hidup yang terus berjalan membuat si Chris mulai kesulitan dalam keuangan. Istrinya harus bekerja 14 jam sehari di tempat laundry demi membantu membiayai biaya hidup keluarga. Anaknya dititipkan di sebuah tempat penitipan anak yang murah dari pagi dan sorenya dijemput oleh Chris saat selesai dengan kunjungan ke dokter. Biaya sewa rumah yang tidak terbayar dan beban hidup yang dirasa semakin berat membuat istri Chris tidak tahan dengan kondisi tersebut dan memutuskan untuk pindah ke saudaranya di New York. Tetapi rasa cinta Chris dan keinginan agar anaknya mengenal ayahnya, membuat dia memutuskan dia yang akan membesarkan anaknya.
Kondisi keuangan Chris menjadi semakin parah dan pada akhirnya diusir dari pemilik rumah kontrakan karena sudah tidak membayar biaya sewa berbulan-bulan. Dia dan anaknya akhirnya sampai harus tinggal di toilet / kamar mandi di stasiun Kereta Api dan mengunci pintunya agar bisa tidur di dalamnya. Berhari-hari seperti itu, akhirnya Chris bisa menemukan tempat penampungan tuna wisma yang memberikan kamar gratis. Tetapi mereka setiap pagi harus membawa serta barangnya dan setiap sore harus mengantri dengan ratusan tuna wisma lain dan bila beruntung baru bisa mendapat kamar.
Sambil terus menjual sisa alat kedokteran yang dimilikinya, Chris bertemu dengan seseorang yang memarkirkan Ferrari merahnya dan tampak sangat sukses. Keinginannya untuk sukses membuat dia memberanikan diri untuk bertanya “Apa pekerjaan Anda sehingga bisa memiliki mobil Ferrari yang cantik ini ?” Orang tersebut menjawab “Saya seorang Pialang Saham”. Dari sana timbul impiannya lagi dan dia mencoba melamar di sebuah perusahaan sekuritas untuk menjadi seorang pialang saham. Perusahaan tersebut menawarkan pendidikan selama 6 bulan untuk bisa menjadi calon Pialang Saham. Setelah 6 bulan pendidikan hanya memilih 1 dari 30 orang peserta untuk diterima menjadi pialang saham. Dan selama 6 bulan pendidikan, tidak memberikan gaji apapun.
Demi impian barunya tersebut, Chris rela melewati proses pendidikan dan seleksi yang berat tersebut. Dan dia harus bisa mengatur dan menghadapi banyak kesulitan antara belajar menjadi pialang saham, mengantar dan menjemput anaknya di tempat penitipan anak, antri di sore hari di tempat penampungan tuna wisma, sering tidak makan agar menghemat uang yang tinggal sedikit dan masih harus mencari calon pelanggan untuk perusahaan pialang saham. Saya akan heran kalau Anda tidak merasa tersentuh dan terharu melihat semua upaya yang dilakukan Chris untuk mengatasi semua kesulitan tersebut. Saat saya menonton film ini, saya memiliki kesulitan dan tantangan dalam hidup saya, tetapi setelah melihat apa yang dihadapi Chris sehari-harinya, saya merasa kesulitan saya tidak ada apa-apanya. Saya yakin Anda juga akan merasa seperti itu.
Setelah melalui 6 bulan perjuangan dan semua kesulitan yang harus dihadapi, Chris akhir terpilih untuk menjadi pialang saham dan memulai karirnya di industri itu. Chris Gardner akhirnya menjadi seorang pialang saham yang sukses, yang kemudian mendirikan perusahaan pialang sendiri dan menjadi Multi Milyarder yang dermawan dalam membantu menyediakan tempat penampungan bagi para tuna wisma, mengingat dia pernah mengalami hal tersebut.
Trailer dari Film
Pelajaran dari Film Ini
Saya dapat memetik beberapa pelajaran penting dari film ini yang merupakan kisah nyata dari seseorang yang berjuang dari nol hingga mencapai impiannya.
Website tentang Film
Saya sangat terinspirasi dengan kisah Chris Gardner, setelah melihat film ini saya langsung membeli buku The Pursuit of Happyness . Setelah selesai membaca buku itu, saya kemudian juga mencari dan membaca beberapa website yang membahas film ini dan juga yang membahas biografi dari tokoh asli Chris Gardner, diantaranya :
Semoga Anda dapat memetik manfaat dari tulisan saya mengenai film ini. Sukses buat Anda!
Mau pemberitahuan otomatis bila ada post baru? Subscribe via RSS Reader atau Subscribe via Email!
Discussion
Comments are disallowed for this post.